Blog

  • Dorong Peran Aktif Suami dalam Kesehatan Reproduksi dan KB, Mahasiswa UMSA Gelar Sosialisasi di MAKO DAMKAR Kab. Kotim

    SAMPIT – Mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan Universitas Muhammadiyah Sampit melaksanakan kegiatan sosialisasi bertajuk “Peran Penuh Keluarga Utuh, Stigma Dipatahka Tanggung Jawab KB Dibagikan” di MAKO DAMKAR Kabupaten Kotawaringin Timur. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengikuti lomba AKU KAMU 2026 yang diselenggarakan oleh BKKBN.

    Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya peran suami dalam kesehatan reproduksi dan program keluarga berencana (KB). Selama ini, masih banyak stigma di masyarakat yang menganggap bahwa urusan kesehatan reproduksi dan KB sepenuhnya merupakan tanggung jawab perempuan. Melalui kegiatan ini, para mahasiswa ingin menegaskan bahwa kesehatan reproduksi dan keluarga berencana adalah tanggung jawab bersama antara suami dan istri demi terciptanya keluarga yang sehat, harmonis, dan sejahtera.

    Kegiatan sosialisasi tersebut dibawakan oleh empat mahasiswa D3 Kebidanan, yaitu Risma Dewi, Indira Putri, Nadiya Nazwa Noor H, Najwa Salsabila. Dalam penyampaian materi, para peserta diberikan edukasi mengenai pentingnya dukungan suami terhadap kesehatan reproduksi pasangan, keterlibatan laki-laki dalam program KB, serta pentingnya komunikasi dalam keluarga untuk mengambil keputusan bersama terkait perencanaan keluarga.

    Selain penyampaian materi, kegiatan juga berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab bersama peserta sosialisasi. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang diberikan selama kegiatan berlangsung. Hal ini menunjukkanbahwa edukasi mengenai keterlibatan laki-laki dalam kesehatan reproduksi dan keluarga berencana masih sangat dibutuhkan di lingkungan masyarakat.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan stigma mengenai keluarga berencana yang hanya dibebankan kepada perempuan dapat perlahan dipatahkan. Dengan adanya kerja sama dan dukungan dari suami maupun istri, program keluarga berencana dapat berjalan lebih optimal serta mampu menciptakan keluarga yang lebih sehat dan berkualitas.

  • Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sampit Hadirkan “Sipet Benteng” sebagai Media Edukasi Pencegahan Child Grooming Anak

    Sampit– Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sampit kembali menunjukkan inovasi kreatif dalam bidang edukasi kesehatan reproduksi melalui karya berjudul “Sipet Benteng: Integrasi Permainan Tradisional dan Pendidikan Seksual pada Anak untuk Pencegahan Child Grooming berbasis Edukasi Peran Ayah”. Karya tersebut disusun sebagai media promosi dan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kesehatan reproduksi dalam ajang Kompetisi AKUKAMU 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Bina Kesehatan Reproduksi BKKBN.

    Tim yang terdiri dari Alfian Marghibani, Kartika Aulia Deswanti, Lindiya Anggraeni, dan Mutia Ningsih Azzahro mengembangkan media edukasi berbasis permainan tradisional khas Kalimantan Tengah, yaitu sipet atau sumpit tradisional. Media ini dirancang untuk membantu anak usia 7–9 tahun memahami batas tubuh, mengenali sentuhan aman dan tidak aman, serta berani melapor apabila menghadapi situasi yang mengarah pada kekerasan seksual.

    Nama Sipet Benteng sendiri diadaptasi dari istilah menyipet, yakni aktivitas menggunakan sumpit tradisional khas Kalimantan Tengah yang dikenal sebagai permainan tradisional suku Dayak yang melatih fokus, ketangkasan, dan ketepatan sasaran. Filosofi tersebut kemudian diintegrasikan dalam media edukasi ini sebagai simbol keberanian anak dalam menjaga diri, mengenali situasi berbahaya, serta berani berkata “tidak” terhadap tindakan yang tidak aman. Melalui permainan ini, anak tidak hanya diajak bermain, tetapi juga belajar melindungi diri dengan pendampingan orang tua, khususnya ayah sebagai “benteng” perlindungan utama bagi anak.

    Permainan dikemas melalui papan sasaran tubuh dengan zona hijau dan merah yang terhubung pada kartu edukasi interaktif. Selain mengedukasi anak, media ini juga menekankan pentingnya peran ayah dalam membangun komunikasi terbuka dan perlindungan diri anak dari ancaman child grooming.

    Inovasi “Sipet Benteng” menjadi bentuk penggabungan edukasi kesehatan reproduksi dengan kearifan lokal yang dikemas secara menarik, interaktif, dan mudah dipahami anak. Ke depannya, media edukasi ini diharapkan dapat diterapkan lebih luas di lingkungan keluarga, sekolah, maupun komunitas sebagai upaya preventif dalam meningkatkan kesadaran anak dan orang tua terhadap pentingnya perlindungan diri serta pencegahan child grooming dan kekerasan seksual pada anak sejak usia dini.

  • Hello world!

    Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!