Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sampit Hadirkan “Sipet Benteng” sebagai Media Edukasi Pencegahan Child Grooming Anak

Sampit– Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sampit kembali menunjukkan inovasi kreatif dalam bidang edukasi kesehatan reproduksi melalui karya berjudul “Sipet Benteng: Integrasi Permainan Tradisional dan Pendidikan Seksual pada Anak untuk Pencegahan Child Grooming berbasis Edukasi Peran Ayah”. Karya tersebut disusun sebagai media promosi dan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kesehatan reproduksi dalam ajang Kompetisi AKUKAMU 2026 yang diselenggarakan oleh Direktorat Bina Kesehatan Reproduksi BKKBN.

Tim yang terdiri dari Alfian Marghibani, Kartika Aulia Deswanti, Lindiya Anggraeni, dan Mutia Ningsih Azzahro mengembangkan media edukasi berbasis permainan tradisional khas Kalimantan Tengah, yaitu sipet atau sumpit tradisional. Media ini dirancang untuk membantu anak usia 7–9 tahun memahami batas tubuh, mengenali sentuhan aman dan tidak aman, serta berani melapor apabila menghadapi situasi yang mengarah pada kekerasan seksual.

Nama Sipet Benteng sendiri diadaptasi dari istilah menyipet, yakni aktivitas menggunakan sumpit tradisional khas Kalimantan Tengah yang dikenal sebagai permainan tradisional suku Dayak yang melatih fokus, ketangkasan, dan ketepatan sasaran. Filosofi tersebut kemudian diintegrasikan dalam media edukasi ini sebagai simbol keberanian anak dalam menjaga diri, mengenali situasi berbahaya, serta berani berkata “tidak” terhadap tindakan yang tidak aman. Melalui permainan ini, anak tidak hanya diajak bermain, tetapi juga belajar melindungi diri dengan pendampingan orang tua, khususnya ayah sebagai “benteng” perlindungan utama bagi anak.

Permainan dikemas melalui papan sasaran tubuh dengan zona hijau dan merah yang terhubung pada kartu edukasi interaktif. Selain mengedukasi anak, media ini juga menekankan pentingnya peran ayah dalam membangun komunikasi terbuka dan perlindungan diri anak dari ancaman child grooming.

Inovasi “Sipet Benteng” menjadi bentuk penggabungan edukasi kesehatan reproduksi dengan kearifan lokal yang dikemas secara menarik, interaktif, dan mudah dipahami anak. Ke depannya, media edukasi ini diharapkan dapat diterapkan lebih luas di lingkungan keluarga, sekolah, maupun komunitas sebagai upaya preventif dalam meningkatkan kesadaran anak dan orang tua terhadap pentingnya perlindungan diri serta pencegahan child grooming dan kekerasan seksual pada anak sejak usia dini.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *